LOUNCHING SANLAT AWAS, AANG: WUJUD BERJUANG SANTRI HARUS BERANI MELAKUKAN PENGAWASAN
|
trenggalek.bawaslu.go.id - Dalam rangka melakukan sosialisasi kepada pengawas partisipatif Bawaslu Kabupaten Trenggalek mengadakan acara "Bersama Santri Awasi Pemilu" sekaligus Lounching Pesantren Kilat Pengawas Partisipatif (SANLAT AWAS) yang bertempat di Pondok Pesantren Bumi Hidayah At- Taqwa hadir dalam acara tersebut Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Timur Aang Kunaifi, pimpinan Bawaslu Kabupaten Trenggalek dan Pengasuh Ponpes Bumi Hidayah At-Taqwa KH. Muhamad Fatchulloh Sholeh (Gus Loh) Selasa, (26/10/2021).
Gus Loh menyampaikan sambutannya beliau mengapresiasi atas kegiatan Bawaslu Kabupaten Trenggalek karena kegiatan ini dapat memberikan tambahan ilmu tentang kepemiluan untuk santrinya.
"Saya berpesan kepada santri dan santriwati agar memperhatikan betul-betul materi sosialisasi ini, ingat santri harus berani, santri harus terdepan, santri tidak bercita-cita menjadi apapun tetapi siap menjadi apapun " terang Gus Loh.
Selanjutnya Ketua Bawaslu Kabupaten Trenggalek Ahmad Rokhani menyampaikan Bawaslu Trenggalek melakukan seleksi peserta pesantren kilat pengawas partisipatif yang lolos dari seleksi sebanyak 26 orang, dalam pelaksanaan sanlat awas kita bagi dua kelas yang nantinya bertempat di media center Bawaslu Kabupaten Trenggalek
"Kita akan memberikan materi tentang dasar-dasar pengawasan dan demokrasi, peran Bawaslu dalam pemilu dan pilkada, tujuan dari kegiatan sanlat awas ini untuk mengubah paradigma berfikir masyarakat, masyarakat bukan menjadi obyek saja datang ke TPS hanya untuk nyoblos tetapi juga dijadikan subjek untuk berdaya ikut serta mengawasi pemilu, dari generasi muda inilah kita bekali pemahaman tentang teknik pengawasan agar terciptanya pemilu yang berkualitas" imbuhnya.
Aang Kunaifi memberikan sambutan sekaligus menyerahkan cinderamata tanda di Lounchingnya Pesantren Kilat Pengawas Partisipatif (SANLAT AWAS)
"Proses pergantian pemimpin kalau dulu pasti dengan perang siapa yang menang dalam perang dia yang akan memimpin. berbeda dengan sekarang, sekarang kita dengan sistem pemilihan umum, rakyat bebas untuk memilih, ini cara yang soft untuk mengganti pemimpin dalam sebuah negara, sama halnya dahulu santri berjuang melawan belanda, sekarang cara berjuang kita menjadi santri harus berani ikut dalam pengawasan partisipatif pemilu "pungkasnya. (ryn)